MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN KOLABORATIF
A.
MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama dalam
keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Ini berarti keberhasilan pendidikan
berpulang pada aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan. Pembelajaran pada
dasarnya selalu terkait dua belah pihak yaitu: pendidik dan peserta didik.
Keterlibatan dua pihak tersebut merupakan keterlibatan hubungan antar manusia (human
interaction). Model kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang
menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan
materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata
sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Model kontekstual merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata
siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dari pengertian ini , maka ada beberapa
keunggulan model pembelajaran kontekstual, yaitu:
1. Real World Learning
2. Mengutamakan pengalaman nyata,
3. Berfikir tingkat tinggi,
4. Berpusat pada siswa,
5. Siswa aktif, kritis, dan kreatif,
6. Pengetahuan bermakna dalam
kehidupan,
7. Dekat dengan kehidupan nyata,
8. Perubahan perilaku,
9. Siswa praktek bukan menghafal,
10. Learning not teaching,
11. Pendidikan bukan pengajaran,
12. Pembentukan manusia,
13. Memecahkan masalah,
14. Hasil belajar diukur dengan berbagai
cara bukan hanya dengan Tes.
Komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan
pembelajaran kontekstual di kelas, yaitu:
1.
Konstruktivisme (constructivism)
Konstruktivisme adalah proses
membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa
berdasarkan pengalaman. Dalam hal ini, seorang guru perlu mempelajari
pengalaman hidup dan pengetahuan, kemudian menyusun pengalaman belajar yang
memberi siswa kesempatan baru untuk memperdalam pengetahuan tersebut.
2.
Bertanya (questioning)
Penggunaan pertanyaan untuk menuntun
berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk
memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang
fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar
untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan
digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir
siswa.
3.
Inkuiri (inquiry)
Inkuiri adalah proses perpindahan
dari pengamatan menjadi pemahaman, yang diawali dengan pengamatan dari
pertanyaan yang muncul. Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut didapat melalui
siklus menyusun dugaan, menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian
hipotesis, membuat pengamatan lebih jauh, dan menyusun teori serta konsep yang
berdasar pada data dan pengetahuan.
Adapun langkah-langkah kegiatan
menemukan: 1) Merumuskan masalah, 2) Mengamati atau melakukan observasi, 3)
Menganalisis dan menyejikan hasil dalam tulisan, gambar laporan, bagan, table
atau karya lainnya. 4) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada
pembaca, teman sekelas, guru, atau audiensi yang lain.
Secara singkat pola ini bertujuan
untuk melatih kemampuan siswa dalam meneliti, menjelaskan fenomena, dan
memecahkan masalah secara ilmiah. Hal ini dilakukan karena pada dasarnya secara
intuitif setiap invidu cenderung melakukan kegiatan ilmiah. Kemampuan tersebut
dapat dilatih sehinggasetiap individu kelak dapat dapat melakukan kegiatan
ilmiahnya secara sadar dan dengan prosedur yang benar.
4.
Masyarakat Belajar (learning community)
Masyarakat belajar adalah sekelompok
siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih
dalam. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk bicara dan berbagi ide,
mendengarkan ide siswa lain dengan cermat, dan bekerjasama untuk membangun
pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide
bahwa belajar secara bersama lebih baik dari pada belajar secara individual.
5.
Pemodelan (modeling)
Pemodelan adalah proses penampilan
suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Pemodelan tidak
jarang memerlukan siswa untuk berpikir dengan mengeluarkan suara keras dan
mendemonstrasikan apa yang akan dikerjakan siswa. Pada saat pembelajaran,
sering guru memodelkan bagaimana agar siswa belajar, guru menunjukkan bagaimana
melakukan sesuatu untuk mempelajari sesuatu yang baru. Guru bukan satu-satunya
model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
6.
Refleksi (reflection)
Refleksi memungkinkan cara berpikir
tentang apa yang telah siswa pelajari dan untuk membantu siswa menggambarkan
makna personal siswa sendiri. Di dalam refleksi, siswa menelaah suatu kejadian,
kegiatan, dan pengalaman serta berpikir tentang apa yang siswa pelajari,
bagaimana merasakan, dan bagaimana siswa menggunakan pengatahuan baru tersebut.
Refleksi dapat ditulis di dalam jurnal, bisa terjadi melalui diskusi, atau
merupakan kegiatan kreatif seperti menulis puisi atau membuat karya seni.
7.
Penilaian Autentik (Authentic Assessment)
Penilaian autentik sesungguhnya
adalah suatu istilah/terminology yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai
metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat
mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan
masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi
yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai simulasi
tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance) yang
ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Penilaian autentik
seharusnya dapat menjelaskan bagaimana siswa menyelesaikan masalah dan
dimungkinkan memiliki lebih dari satu solusi yang benar.Strategi penilaian yang
cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa
teknik penilaian.
Model kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa
saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya, Secara
garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan
belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan barunya.
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan
inkuiri untuk semua topik.
3. kembangkan sifat ingin tahu siswa
dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar.
5. Hadirkan model sebagai contoh
pembelajaran.
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya
dengan berbagai cara.
Ada beberapa perbedaan antara model kontekstual dengan
model tradisional, yaitu:
No
|
Model
Kontekstual
|
Tradisional
|
1
|
Siswa
secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran
|
Siswa
adalah penerima informasi secara pasif
|
2
|
Siswa
belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi.
|
Siswa
belajar secara individual
|
3
|
Pembelajaran
dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau yang disimulasikan
|
Pembelajaran
sangat abstrak dan teoritis
|
4
|
Perilaku
dibangun atas dasar kesadaran diri
|
Perilaku
dibangun atas dasar kebiasaan
|
5
|
Keterampilan
dikembangkan atas dasar pemahaman
|
Keterampilan
dikembangkan atas dasar latihan
|
6
|
Bahasa
diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan
bahasa dalam konteks nyata
|
Bahasa
diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterangkan sampai paham
kemudian dilatihkan
|
7
|
Pemahaman
siswa dikembangkan atas dasar yang sudah ada dalam diri siswa
|
Pemahaman
ada di luar siswa, yang harus diterangkan, diterima, dan dihafal
|
8
|
Siswa
menggunakan kemampuan berfikir kritis, terlibat dalam mengupayakan
terjadinnya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas
terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan membawa pemahaman
masing-masing dalam proses pembelajaran
|
Siswa
secara pasif menerima rumusan atau pemahaman (membaca, mendengarkan,
mencatat, menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses
pembelajaran
|
9
|
Siswa bertanggung
jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing
|
Guru
adalah penentu jalannya proses pembelajaran
|
10
|
Penghargaan
terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan
|
Pembelajaran
tidak memperhatikan pengalaman siswa
|
11
|
Hasil
belajar diukur dengan berbagai cara : proses, bekerja, hasil karya,
penampilan, rekaman, tes, dll.
|
Hasil
belajar hanya diukur dengan hasil tes
|
12
|
Pembelajaran
terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting
|
Pembelajaran
hanya terjadi dalam kelas
|
13
|
Berbasis
pada siswa
|
Berbasis
pada guru
|
Dalam pembelajaran kontekstual memiliki
Kelebihan dan Kelemahan, adapun hal tersebut sebagai berikut:
·
Kelebihan:
Ø Peserta
didik mampu menghubungkan teori dengan kondisi di lapangan yang sebenarnya.
Ø Peserta
didik dilatih agar tidak tergantung pada menghapal materi.
Ø Melatih
peserta didik untuk berpikir kritis dalam meghapdapi suatu permasalahan.
Ø Melatih
peserta didik untuk berani menyampaikan argumen, bertanya, serta menyampaikan
hasil pemikiran.
Ø Melatih
kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain.
·
Kelemahan,
Ø Membutuhkan
waktu lama dalam pelaksanaannya.
Ø Membutuhkan
banyak biaya.
B.
MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang
untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi
untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran
kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi
perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah menambah
momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu:
- Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata;
- Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
A. Metode
kolaboratif didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai siswa dalam proses belajar
sebagai berikut :
1.
Belajar itu aktif dan konstruktif
Untuk mempelajari bahan pelajaran,
siswa harus terlibat secara aktif dengan bahan itu. Siswa perlu
mengintegrasikan bahan baru ini dengan pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya. Siswa membangun makna atau mencipta sesuatu yang baru yang terkait
dengan bahan pelajaran.
2.
Belajar itu bergantung konteks
Kegiatan pembelajaran menghadapkan
siswa pada tugas atau masalah menantang yang terkait dengan konteks yang sudah
dikenal siswa. Siswa terlibat langsung dalam penyelesaian tugas atau pemecahan
masalah itu.
3.
Siswa itu beraneka latar belakang
Para siswa mempunyai perbedaan dalam
banyak hal, seperti latarbelakang, gaya belajar, pengalaman, dan aspirasi.
Perbedaan-perbedaan itu diakui dan diterima dalam kegiatan kerjasama, dan
bahkan diperlukan untuk meningkatkan mutu pencapaian hasil bersama dalam proses
belajar.
4.
Belajar itu bersifat sosial
Proses belajar merupakan proses
interaksi sosial yang di dalamnya siswa membangun makna yang diterima bersama.
B. Tujuan pembelajaran kolaboratif.
1. Dari pendengar, pengamat dan
pencatat menjadi pemecah masalah yang aktif, pemberi masukan dan suka diskusi.
2. Dari persiapan kelas dengan harapan
yang rendah atau sedang menjadi ke persiapan kelas dengan harapan yang tinggi.
3. Dari kehadiran pribadi atau
individual dengan sedikit resiko atau permasalahan menjadi kehadiran publik
dengan banyak resiko dan permasalahan.
4. Dari pilihan pribadi menjadi pilihan
yang sesuai dengan harapan komunitasnya.
5. Dari kompetisi antar teman sejawat
menjadi kolaborasi antar teman sejawat.
6. Dari tanggung jawab dan belajar mandiri,
menjadi tanggung jawab kelompok dan belajar saling ketergantungan.
7. Dahulu melihat guru dan teks sebagai
sumber utama yang memiliki otoritas dan sumber pengetahuan sekarang guru dan
teks bukanlah satu-satunya sumber belajar. Banyak sumber belajar lainnya yang
dapat digali dari komunitas kelompoknya.
Selain itu,
dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai
berikut:
1. Memaksimalkan proses kerjasama yang
berlangsung secara alamiah di antara para siswa.
2. Menciptakan lingkungan pembelajaran
yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama.
3. Menghargai pentingnya keaslian,
kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan
proses belajar.
4. Memberi kesempatan kepada siswa
menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.
5. Mengembangkan berpikir kritis dan
ketrampilan pemecahan masalah.
6. Mendorong eksplorasi bahan pelajaran
yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.
7. Menghargai pentingnya konteks sosial
bagi proses belajar.
8. Menumbuhkan hubungan yang saling
mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara siswa dan
guru.
9. Membangun semangat belajar sepanjang
hayat.
C. Macam-macam model pembelajaran
colaborative
1. Learning Together
2. Teams-Games-Tournament (TGT)
3. Group Investigation (GI)
4. Academic-Constructive Controversy
(AC)
5. Jigsaw Proscedure (JP)
6. Student Team Achievement Divisions
(STAD)
7. Complex Instruction (CI)
8. Team Accelerated Instruction (TAI)
9. Cooperative Learning Stuctures (CLS)
10. Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC)
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Dalam pemebelajaran
coperative memiliki Kelebihan
dan kekurangan, adapun itu sebagai berikut:
1. KELEBIHAN
Ø Siswa belajar bermusyawarah
Ø Siswa belajar menghargai pendapat
orang lain
Ø Dapat mengembangkan cara berpikir
kritis dan rasional
Ø Dapat memupuk rasa kerja sama
Ø Adanya persaingan yang sehat
2. KELEMAHAN
Ø pertanyaan siswa dapat menyimpang
dari pokok persoalan.
Ø Membutuhkan waktu cukup banyak.
Ø Adanya sifat-sifat pribadi yang
ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu
tergantung pada orang lain.
Ø Kebulatan atau kesimpulan bahan
kadang sukar dicapai.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus1. Model pembelajaran kontekstual secara penerapannya menggutamakan pengalaman nyata siswa, bagaimana jika siswa tersebut belum mengalami pembelajaran yang mengutamakan mengalaman sebelumnya. apa tindakan guru tersebut dan berikan langkah-langkahnya?
Hapus2. Model pembelajaran kolaboratif dalam penerapannya membutuhkan waktu yang lama, bagaimana strategi guru agar waktu tersebut bisa berjalan sesuai tuntutan disekolah?
3. apakah model pembelajaran kontektual dan model pembelajaran kolaboratif bisa terapkan secara bersamaan dalam proses pembelajaran?
Menurut saya pertanyaan no 3 , bisa saja model kontekstual dan model kolaboratif diterapkan secara bersamaan, tetapi guru harus melihat terlebih dahulu situasi dan kondisi baik siswa, sumber belajar dll. Semua model pembelajaran itu baik dan proses pembelajaran akan berhasil jika model pembelajaran yg digunakan sesuai dengan kondisi 😊
HapusTerimakasih atas ulasan yg sangat menarik ini. Menurut saya bisa saja model pembelajaran kontekstual dan kolaboratif diterapkan bersamaan, selama guru bs mengarahkannya, maka bisa saja model ini sangat bagus. Karena model kontekstual mengaitkan dengan kehidupannyata. Maka dalam model kolaboratif siswa bs lebih mengeluarkan pendapat mereka jika materi d kaitkan dengan kehidupan nyata.
BalasHapus1..guru mengarahkan dan menanamkan konsep materi yg di ajarkan dengan baik ,memberi keterampilan prasyarat sebagai pengetahuan awal yg dimiliki siswa agar siswa bisa memikirkan dan menghubungkan dengan lingkungan nya dan pengalaman bjsa dalam bentuk animasi,simulasi maupun praktikum
BalasHapus1. Terima kasih atas ulasan yang telah diberikan, menurut saya dalam model pembelajaran kontekstual ini, pengalaman nyata bisa didapat dari proses pembelajaran dimana ketika guru menyampaikan materi dengan metode demonstrasi dan siswa juga melakukan kegiatan tersebut, maka saat itulah siswa akan mendapatkan pengalaman nyata. Langkah-langkah dalam model pembelajaran kontekstual menunjukkan adanya pengalaman nyata yang didapat siswa terutam dalam proses inquiry. Apabila siswa sebelumnya sudah mengalami secara langsung maka hal tersebut bisa menjadi sumber informasi bagi siswa lainnya.
BalasHapusAssalamualaikum wr, wb
BalasHapusKalau menurut saya sah sah saja jika dalam pembelajaran di gunakan 2 model bersamaan..
Sebelum menggunakan kedua model pembelajaran tersebut guru harus tahu kondisi dan situasi di kelas apakah dengan efektif jika digunakan pembelajaran seperti ini.
Dan apakah anak didik mudah mengerti tentang model yang guru gunakan..
Terima kasih
1. Seperti yang kita ketahui model pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan pengalaman nyata siswa sehingga jika siswa tersebut belum mengalami pembelajaran yang mengutamakan pengalaman secara langsung maka guru harus membibing siswa terlebih dahulu.Menurut Aqib (2013) secara garis besar, langkah-langkahnya sebagai berikut ini:
BalasHapusa. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan menemukan untuk semua topik.
c. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
d. Ciptakan masyarakat belajar.
e. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
f. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
g. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
2. Sebagai seorang guru biasanya kita memiliki rencana pelaksanaan pembelajaran atau biasa dikenal dengan RPP dalam RPP sendiri terdapat alokasi waktu dalam pelaksaan kegiatan belajar mengajar, dari pendahuluan, isi hingga penutup sehingga waktu yang diperlukan dalam kegiatan KBM sesuai dengan RPP
3. Bisa tergantung dari kemampuan guru yang mengajar
menurut pendapat saya pada pertanyaan 2.
BalasHapusguru bisa mencari solusi bagaimana mengatur strategi yang baik dalam melakukan pembelajaran secara kolaborative agar bisa berjalan sesuai tuntutan disekolah, mgkin dengan cara belajar tambahan di sore hari atau dengan cara membatasi materi yang dipelajarinya agar waktu terjaga secara efisien.